[Ulasan] Shigofumi

Fumika Mikawa
Fumika Mikawa

Shigofumi adalah surat dari orang yang sudah meninggal. Bisa dikatakan pesan terakhir dari orang yang sudah tiada. Dan yang mengirim surat itu adalah kurir yang dalam cerita juga disebut-sebut sudah meninggal.

Mungkin ini ulasan paling alay yang pernah saya ketik. Tapi, anime ini memiliki cerita drama psikologis yang cukup dalam. Bahkan membuat saya (sebagai penonton) sempat putus asa ketika menontonnya. Mungkin sama putus asanya dengan menonton Danganronpa, terutama yang Despair Arc, atau mungkin lebih dari itu?

Memangnya seperti apa sih ceritanya? Sebelumnya, mungkin ulasan ini akan banyak spoiler, jadi mohon dipikirkan dengan bijak sebelum membaca.

Cerita

Anime ini bercerita tentang kurir pengantar surat dari orang mati. Bukan berarti kutukan atau surat kematian, hanya surat biasa yang ditulis oleh orang yang sudah meninggal untuk kerabat, teman, atau kenalannya yang masih hidup. Seperti yang saya katakan diawal, bisa dikatakan pesan terakhir dari orang yang sudah tiada.

Tiga episode awal masih pengenalan cerita. Jadi saya pikir ceritanya enggak akan berkembang jauh. Karena setiap episode memiliki cerita dengan sudut pandang dari tokoh berbeda. Kalau kalian tahu Jigoku Shoujo yang setiap episode-nya berbeda, nah mungkin seperti itu. Saya bukan menyamakan konsep cerita, saya hanya ingin menyampaikan kalau setiap episode berbeda, dan kurirnya sama seperti si gadis neraka yang muncul ketika sudah waktunya.

Jujur saja setelah menonton tiga episode awal, saya benar-benar tidak ada ketertarikan buat lanjut. Bayangkan saja, jarak tonton dari episode tiga ke empat adalah dua bulan. Yap, saya menonton anime ini ketika awal bulan Agustus, tapi setop di episode tiga karena drama yang terlalu berat, bikin baper, dan setiap kisah sudut pandang benar-benar membuat saya putus asa. Bagaimana tidak? Di sini penonton akan menjadi sudut pandang pelaku utama, dalam arti, kita akan diperlihatkan bagaimana si pelaku utama putus asa, tidak bisa meminta bantuan, apa pun yang dilakukan percuma, sampai pikirannya digerogoti kegelisahan. Dan akhirnya? Meninggal. Kalau pun tidak meninggal, paling hanya putus asa, dan menyerah dalam hidup. Karena memang tidak tahu harus berbuat apa.

Dan hari ini, kebetulan saya bingung tidak ada tontonan. Akhirnya coba-coba lanjut nonton episode keempat, tak disangka drama yang “sebenarnya” dimulai dari sini. Ada kurir lain yang bernama Chiaki. Chiaki adalah rekan kurir dari Fumika Mikawa, kemunculan Chiaki membuat rahasia lain mencuat ke permukaan. Di awal saya bilang kalau semua kurir adalah orang yang sudah meninggal. Yang berarti, semua waktu, pertumbuhan tubuh, dan perubahan terhenti. Intinya sih enggak tua-tua. Tapi, saat Chiaki bertemu dengan Fumika, Chiaki sadar anehnya Fumika tumbuh semakin tinggi. Nah, di sini mulai seru. Jadi dramanya enggak cuma dari sudut pandang masyarakat yang putus asa, malah dari si kurir sendiri.

Masuk episode tujuh, ceritanya makin berkembang dengan ditemukan seseorang dengan nama yang sama, yaitu Fumika Mikawa. Di sini terungkap kalau Mika (sebutan untuk Fumika Mikawa kurir) adalah kepribadian lain dari orang yang bernama Fumika (sebutan untuk orang bernama Fumika Mikawa yang masih hidup). Dengan kata lain, Mika bisa tumbuh karena dia belumlah mati. Lalu, kenapa dia bisa jadi kurir yang seharusnya untuk orang mati?

Saya tidak akan memberi tahu lebih lanjut, karena tidak akan seru. Lebih baik tonton saja kalau penasaran.

Grafis

Studio yang menangani adalah J.C. Staff, dan perlu diketahui ini adalah anime yang tayang musim dingin 2008. Tapi penggambaran karakter menurut saya sudah sangat bagus dan cukup memanjakan mata. Bahkan saya tidak mengira kalau ini anime tahun 2008.

Hanya saja, gerakan yang kurang luwes menjadi nilai kurang, tapi menurut saya hal ini tidak berpengaruh pada cerita yang diberikan. Karena grafis yang terkesan gelap sangat cocok diaplikasikan pada cerita Shigofumi.

Karakter

Seperti yang saya bilang, setiap episode memiliki cerita yang berbeda makanya ada banyak sudut pandang. Hanya saja, dimulai dari episode empat, meski sudut pandang berbeda, tapi nantinya akan menyatu di episode terakhir. Saya juga kaget, orang yang berakhir tragis pun nantinya akan muncul kembali di episode terakhir.

Yang pada akhirnya ini merupakan cerita dari seorang kurir bernama Fumika Mikawa. Karakter lain yang terseret pun terus ada hingga episode terakhir. Sebut saja Chiaki, dia juga seorang kurir. Tentu saja Chiaki sudah meninggal, nanti akan ada kisah masa lalunya, jadi kita juga akan tahu seberapa tragis cerita dari seorang kurir sebelum meninggal.

Karena Chiaki mati muda, jadi bisa dibilang dia sudah dewasa. Dari cara bicaranya kelihatan kayak orang dewasa, malah dia ini suka banget minum-minum. Enggak kayak Mika yang Poker Face, semua yang dilakukannya adalah karena tuntutan pekerjaan sebagai kurir. Selain Mika dan Chiaki, ada juga teman manusia bernama Kaname dan Natsuka. Mereka adalah teman SMP Fumika. Bukan Mika, tetapi Fumika.

Malahan, semua drama ini dimulai ketika Kaname tak sengaja bertemu Mika saat mengantarkan surat. Ketika Kaname menyelidikinya, dia sadar kalau Fumika ternyata sedang tidak sadarkan diri selama tiga tahun. Yang artinya, sangat mustahil Kaname melihat Fumika sedang berkeliaran di luar. Intinya sih, Kaname ini orangnya penasaran, dia enggak berhenti sampai menemukan sebuah jawaban. Dan Natsuka, dia adalah cewek yang mencintai Kaname, tentu saja Kaname tidak menyadarinya. Karena Kaname terlalu fokus pada Fumika. Karena Natsuka teman dekat Fumika ketika SMP, Kaname pun akhirnya meminta bantuan Natsuka untuk mengetahui Fumika lebih dalam.

Oh iya, saya sampai lupa soal tongkat kurir. Setiap kurir berhak memilih tongkat untuk menjadi partner dalam mengantarkan pesan. Tongkat milik Mika namanya Kanaka, dia punya suara cewek. Malah persis kayak Magical Ruby di Fate/kaleid liner Prisma IIlya. Tapi ternyata mereka memiliki pengisi suara yang berbeda. Lalu Matoma, yang merupakan tongkat milik Chaki. Matoma memiliki suara cowok dan lebih berwibawa. Bahkan selalu melakukan pekerjaan dengan benar dan lebih baik dari Kanaka.

Musik

Lagu Pembuka: Kotodama 「コトダマ」 oleh ALI PROJECT
Lagu Penutup: Chain oleh Snow

Lagu pembuka dan penutup rasanya agak susah dijelaskan. Rasanya benar-benar cocok banget sama temanya yang gelap, apalagi buat penutupnya. Habis menonton cerita yang bikin gelisah, terus dikasih lagu yang dalam banget. Ah, benar-benar, deh.

Selain itu, efek suara yang diberikan menurut saya biasa tapi cukup menegangkan. Apalagi pas adegan-adegan si pelaku utama sedang kesulitan, itu benar-benar membuat cerita jadi lebih hidup. latar musik juga sangat berperan penting di sini. Makanya penonton bisa kebawa suasana saat menontonnya.

Kenikmatan Menonton

Saya salah menilai anime ini, awalnya saya hampir drop dan malas untuk melanjutkan. Tapi, saya beri tahu kalau anime ini memiliki akhir yang bahagia. Kisah Fumika Mikawa membuat saya penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Buat kamu yang suka nonton drama, ini sangat cocok. Tapi, saya tidak menyarankan orang yang baperan, bermental kecil untuk menontonnya. Karena benar-benar membuat putus asa. Apalagi episode enam. Tadinya saya mau bilang “silakan nonton tanpa nonton episode 6”, tapi saya tarik ucapan itu. Soalnya episode 6 ini sangat berperan penting dalam cerita. Meski beda sudut pandang, nanti di episode akhir akan dimunculkan kembali ke permukaan. Tentu saja dari sudut pandang Fumika.

Kalau mau menonton, saya sarankan jangan nonton pas lagi depresi, nontonlah ketika suasana hatimu stabil. Dan tonton sampai akhir, biar enggak menyesal. Oh iya, jangan lupa buat nonton episode spesial. Soalnya episode ini bisa dibilang episode 13 atau episode paling akhir, karena memang masih berlanjut dari cerita di episode 6.


Penilaian

Cerita: 8
Grafis: 8
Karakter: 7
Musik: 8
Kenikmatan: 8
Keseluruhan: 7.8/10

2 gagasan untuk “[Ulasan] Shigofumi

  • 10 Oktober 2017 pukul 14:33
    Permalink

    Kalau di liat jalan ceritanya emang mirip jigouko shoujo tapi kalau bisa buat kita tercenggang hampir sama kaya anime selector infected and spread wixoss deh min, soalnya anime tersebut banyak genre psycolog, myatery dan kita dibuat berpikir 2 x

    Balas
    • 10 Oktober 2017 pukul 14:37
      Permalink

      iya benar, kitanya dibikin mikir 2x apa yg sebenarnya dan seharusnya terjadi.

      Emosi penonton juga ikut dipermainkan kalo nonton yg kayak gini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: