[Ulasan] Saijaku Muhai no Bahamut

Sedikit tapi belum pasti. Secara acak saya mulai mengulas anime musim dingin 2016, yang tertinggal biarlah menunggu waktu.
Dan kali ini entah kenapa saya yang pengin nonton Dagashikashi malah Saijaku Muhai dulu yang tamat duluan. Baiklah, langsung saja.

Cerita
Ah, ini harem. Jelas dari sampulnya, dari episode pertama pun sudah kelihatan. Mungkin saya sudah pernah curhat kalau saya enggak begitu suka harem, karena pasti banyak perempuan menjengkelkan di sana. Tapi justru karena banyak karakter yang berbeda seperti ini malah ceritanya menjadi menarik. Eh, ini mah dibahas nanti di tag karakter saja.
Jadi ceritanya tentang Lux Arcadia yang mantan pangeran dan memiliki kekuatan suci yang datang ke sekolah khusus perempuan buat bekerja, eh malah jadi murid. Oh, iya, sampai lupa. Setiap tokoh itu memiliki yang namanya Drag-Ride, ah saya bingung ngelokalinnya. Penunggang Naga? Pokoknya mirip Infinite Stratos.

Jujur saja saya bingung bagaimana menjelaskan inti ceritanya, yang jelas sih Si Lux ini mengkhianati kerajaannya dengan cara membantainya, cuma dia ini memiliki alasan yang tidak bisa dijelaskan. Tentu, Lux ingin semua yang dilakukannya harus tanpa korban, namun kakaknya, saat itu seperti tidak peduli. Nah, sejak itu Lux selalu berhati-hati bila bertemu kakaknya, mungkin bisa dibilang dia ingin balas dendam ke kakaknya.

Di episode 10 saya berhenti, setelah lima hari saya lanjut menamatkan episode 11 dan 12. Cuma karena kelamaan, jadi lupa gimana ceritanya, yang jelas di episode 11 dan 12 ini ada cewek (saya enggak tahu namanya) berencana menghancurkan kerajaan yang sekarang, dia bilangnya ingin membawa bencana seperti saat Lux membantai kerajaan dulu. *CMIIW

Intinya mah saya enggak begitu ngerti sama maksud dan tujuan cerita ini, dan diakhir episode 12, kakaknya masih berkeliaran, akankah ada musim keduanya? Kalau pun ada saya enggak tahu bakal nonton atau enggak.

Grafis
Jujur saja, grafisnya lebih bagus IS dibanding Saijaku Muhai. Selain itu, saat adegan bertarung juga pas setiap tokoh berbicara, muka si tokoh yang sedang bicara tersebut diperbesar. Jadi kesannya kayak buat menghemat adegan bertarungnya. Soalnya penonton difokuskan ke gambar muka yang muncul, malah setengah layar ditutupi muka si tokoh yang lagi bicara. Apalagi kalau adegan bertarungnya lagi seru-serunya, malah jadi nutupin. Tapi sisi baiknya, penonton jadi tahu ekspresi para tokoh.

Tapi, yah …. Saya akui di episode 11 dan 12 saat adegan bertarung lumayan seru dan bagus, meski masih banyak adegan yang dilewatkan.

Karakter

Seperti yang sebelumnya saya bilang, karena ini harem, jadi semua karakter seperti dipaksakan untuk menyukai satu tokoh. Dan, saya enggak habis pikir sampai melakukan hal yang ektrim. (Kiss) Tunggu, kenapa ektrim? Karena meski harem pun biasanya jarang ada adegan seperti itu. Saya jadi ingat Ore no Kanojo to Osananajimi ga Shuraba Sugiru . Ini juga termasuk ekstrim, tapi semua karakter mendapat bagiannya, meski saya enggak suka sama akhir ceritanya. Lah, malah bahas anime lain.

Oke, segitu saja. Saya enggak akan bahas sifat karakter satu-satu. Yang jelas ada yang tsundere, kali saja dengan saya menyebutkan itu jadi ada yang tertarik untuk menontonnya.

Musik
Lagu Pembuka   : Hiryuu no Kishi 「飛竜の騎士」 oleh TRUE
Lagu Penutup     : Lime Tree 「ライムツリー」 oleh nano.RIPE

Jujur sih enggak ada yang spesial, tapi saya kaget dengan lagu penutupnya. Soalnya dibawain sama nano.RIPE. Padahal baru nonton ulang Non Non Biyori. Jadi hafal. Efek suaranya lumayan sih kalau disaat adegan bertarungnya. Selain itu biasa.

Kenikmatan Menonton
Diepisode 10 saya sampai berhenti menonton selama lima hari. Bahkan dalam lima hari itu sudah tamat tiga anime. Jadi silakan kalian nilai saya menikmatinya atau tidak.


Penilaian
Cerita: 8
Grafis: 9
Karakter: 8
Musik: 7
Kenikmatan: 9
Keseluruhan: 8.2/10


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *