[Ulasan] Omoi no Kakera

Tadinya mau ulas Re;Zero, tapi tanggung, akhirnya ini dulu yang cuma satu episode dan langsung rampung. Ini anime sederhana yang menurut saya sebagai peringatan lima tahunan bencana gempa bumi dan tsunami Jepang Maret 2011. Soalnya memang ditayangkan saat Maret 2016 kemarin.

Biar cepat, langsung saja deh.

Cerita
Jadi ini tentang keluarga, ah ralat, kota yang dulunya kena bencana tsunami. Tapi ceritanya terfokus pada anak SMP bernama Hina. Dia ini kehilangan ibunya saat bencana itu. Ditahun 2016 ini, dia mengikuti latihan skating untuk ikut serta dalam perlombaan. Masalahnya, dia ini enggak begitu bersemangat. Bukan masalah ibunya, malah temannya yang akan pindah kota dalam waktu dekat.

Keputusan temannya yang begitu mendadak apalagi ayahnya yang enggak kasih tahu soal temannya itu membuatnya tidak bisa menerimanya. Yap, galau, galau, galau, dan galau.

Terus bagaimana nanti biar dia enggak galau? Endingnya lumayan bikin sedih, jadi enggak saya kasih tahu bagaimana kelanjutannya. Yang jelas kisahnya ini bisa sedikit kita contoh, terutama bagian akhirnya. Cuma eksekusi ceritanya kurang, jadi mungkin nanti atau kalau ada yang sudah nonton, anime ini cuma cerita biasa yang memang konsepnya sering kita tonton. Yah, menurut saya juga begitu, sih.

Grafis
Grafisnya biasa saja. Cuma diakhir cerita, waktu Hina tampil skating pakai 3D. Memang, sih, bagian ini pantasnya pakai 3D, lebih luwes gerakannya.

Karakter
Di cerita ini lebih memfokuskan ke Hina, si tokoh utama. Menceritakan karakternya yang sudah menerima kenyataan, tapi dihadapkan dengan kenyataan lain. Apalagi ayahnya yang enggak banyak bicara soal kehidupannya. Maksudnya, di ayahnya ini lebih suka tidak membahas masa lalu.

Musik
Lagu Penutup: Omoi no Kakera 「想いのかけら」 oleh Rico Sasaki

Jujur, enggak ada istimewanya. ahahaha, biasa banget sih. Kalau dibilang bagus ya bagus, kalau dibilang jelek ya enggak, sih. Soalnya memang untuk anime yang bikin lumayan bikin sedih ya sudah pas. Apalagi pas adegan nanti bagian-bagian sedihnya. Musiknya itu, lo, yang mendukung banget.

Kenikmatan Menonton
Saya jadi teringat Tokyo Magnitude. Cuma bedanya, kalau ini tentang Hina yang menjalani hidupnya setelah bencana lima tahun. Kalau Tokyo Magnitude tentang bagaimana bertahan hidup saat bencana.
Sayangnya cuma satu episode. Mungkin kalau 12 episode penuh bakal seru dengan beberapa penambahan cerita lainnya. Eh, tunggu, jangan deh. Saya yakin kalau 12 episode si Hina ini sifatnya makin enggak karuan. Asli.


Penilaian

Cerita: 7
Grafis: 7
Karakter: 7
Musik: 6
Kenikmatan: 8
Keseluruhan: 7.0/10


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *