[Ulasan] Isuca

Isuca

Sebenarnya ini sudah lama ingin di publis, tapi malah kesendat lama gara-gara malas, jadi pundung.

Langsung saja deh.
Saya enggak tahu harus mengomentari apa tentang anime ini. Agak enggak enak juga bilangnya, hanya 10 episode dengan cerita sedikit menarik namun dengan pembawaan yang cukup membosankan. Entahlah, tapi saya tetap menontonnya hingga akhir episode.

Cerita
Isuca ini bercerita tentang lelaki yang mencari pekerjaan untuk membiayai kehidupannya karena orang tuanya pergi jauh, dan uang kirimannya tidak cukup. Dan lelaki ini bertemu dengan seorang guru yang membuatnya untuk bekerja sebagai pembantu di keluarga Shimazu.
Perlu kalian tahu, Shimazu itu memiliki kekuatan untuk mengusir roh jahat yang datang ke dunia.

Jujur saja, awal episode saya dibuat kaget dan sempat berpikir, “Wah, kayaknya bakal seru, nih.” namun ternyata eksekusi cerita cukup buruk dengan karakter utama yang membuat saya jengkel. Oh, apa ada yang tahu komik Miracle Kiss? Entah kenapa saya ingat komik itu ketika menonton Isuca, pasalnya, adegan ciumannya membuat sang tokoh utama, si perempuan menjadi hebat. Benar, Shinichirou Asano, tokoh laki-laki di sini memiliki kekuatan bila bibirnya tersentuh bibir orang lain maka kekuatan yang disentuh akan bertambah. Menarik, bukan? Saya juga berpikir begitu. Sisanya, silakan kalian tonton. Karena sudah saya beritahu di paragraf pertama tag CERITA.

Grafis
Wah, studio Arms, ya? Lumayan, sih. Meski ada beberapa adegan yang gerakannya hanya diulang-ulang. Dan penggambaran saat adegan bertarung pun tidak begitu dibuat heboh, paling darah yang keluar dibuat seperti air mancur yang muncrat dengan begitu hebat.
Oh, untuk sensor saya tidak mempermasalahkannya. Tinggal menunggu cakram biru saja kalau mau tanpa sensor.

Karakter
Ah, Asano membuat saya jengkel, sifatnya yang begitu bodoh tidak karuan benar-benar membuat saya jengkel. Meski mungkin ada beberapa pendapat kalau karakter dengan sifat bodoh biasanya ujung-ujungnya paling hebat. Yah, saya akui itu. Tapi tidak untuk Isuca, gimana ya bilangnya, benar-benar enggak berguna, cuma mengandalkan ciuman, gaya bertarung pun tidak ada kemajuan.
Dan, Sakuya Shimazu, gadis keluarga Shimazu yang Tsundere, entahlah, kadang Tsundere itu bisa membuat penonton jengkel juga. Tapi saya suka dengan dia.

Musik
Jujur saja, efek suara yang diberikan tidak begitu heboh, bisa saya katakan BIASA. Lagu pembuka dan penutup meski saya tidak pernah melewatkannya dan pasti saya dengarkan, tapi saya tidak begitu suka. Ilustrasi lagu penutup dibuat seperti boneka, entahlah, mungkin 3D?

Lagu Pembuka: “Never say Never” oleh Afilia Saga
Lagu Penutup: “Somebody to love” oleh TWO-FORMULA

Kenikmatan menonton
Saya hanya menikmati plot yang ada. Sudah, itu saja.


Penilaian
Cerita: 6
Grafis: 7
Karakter: 7
Musik: 5
Kenikmatan: 7
Keseluruhan: 6.4/10


Gambar: Pixiv

Dan buat kamu yang ingin berbincang-bincang, yuk mampir ke #kunime@irc.rizon.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: