[Ulasan] Flying Witch

Sedikit curhat, enggak harus dibaca, kok. Tanggal 30 Mei 2016 malam hari, kunime lumpuh. Akibatnya tanggal 31 kunime tidak bisa diakses. Hal ini disebabkan karena kelebihan bandwith.

Ternyata perharinya kunime memakan 140 – 160MB bandwith. Sedangkan quota yang diberikan hanya sebatas 5GB perbulan. Untuk Juni ini saya enggak tahu bakal lumpuh lagi atau enggak, yang jelas untuk menanggulanginya saya unggah gambar melalui tumblr. Jadi sumber daya gambar ada di sana. Mudah-mudahan saya bisa upgrade server agar enggak lumpuh lagi.


Kali ini saya akan mengulas Penyihir Terbang. Anime dengan cerita yang sangat santai. Yap, santai. Saya saja tertipu dengan judulnya.

Yuk, intip kenapa saya sebut santai?

Cerita
Judulnya memang Flying Witch, jadi mau bagaimanapun juga pasti ada genre supernaturalnya. Terus saya pikir bakal ada aksinya, ternyata salah. Ini bercerita tentang gadis penyihir bernama Makoto Kowata yang menumpang dikerabatnya di Hirosaki. Alasannya, karena dalam dunia penyihir, secara tradisi akan dikatakan dewasa saat menginjak usia 15 tahun. Dan, agar bisa menjadi lebih mandiri, Makoto, si penyihir pindah dari rumahnya.

Selama menumpang, kegiatannya sebagai penyihir dilakukannya dengan santai. Seperti berlatih mantra baru, jalan-jalan mengenal kota, bertemu dengan penyihir lain dan sebagainya. Dan itu benar-benar tidak ada aksinya, semua dilakukan dengan santai yang dibalut beberapa komedi kecil.

Lalu, apa yang menjadi daya tariknya? Menurut saya santainya itu yang membuatnya layak ditonton, benar-benar tontonan tanpa beban. Soalnya ini lebih ke kehidupan sehari-hari.

Oh iya, jangan harap bisa nonton adegan di sekolah, ya. Genrenya memang keseharian, tapi enggak ada kehidupan sekolahnya.

Grafis
Ini nih yang membuat saya tertarik buat nonton saat melihat sampul animenya. Penggambaran karakternya memang bukan main untuk ukuran studio J.C. Staff. Hanya saja kadang mereka suka terlihat malas untuk membuat gerakannya lebih halus. Saya beri contoh di episode 8, saat Makoto dan Chinatsu mengejar kumbang koksi, gerakannya hanya diulang-ulang, dan itu kelihatan jelas.

Selain itu, saking santainya cerita anime ini, adegan menghilang pun sudut pandangnya dialihkan ke gambar lain. Jadi enggak ada muncul-muncul lingkaran sihir menyala macam Chuunibyo Demo Koi ga Shitai. (tahu kan maksud saya?)

Kakakter
Karakternya dibuat bertahap, jadi per episode muncul karakter baru. Yang paling disorot tentu saja Makoto Kowata. Lalu diikuti kerabatnya, Kei, dan Chinatsu, adiknya Kei. Makoto sendiri sifatnya pelupa dalam hal menghafal jalan. Dia bisa kesasar kalau pergi-pergi sendirian. Orangnya pun bisa dibilang polos banget.
Kei di sini seorang cowok, saya pikir bakal ada romantis-romantisnya. Ternyata Kei cuma karakter pendukung yang biasa. Terus Chinatsu, adiknya Kei ini semangatnya tinggi. Dia tertarik banget sama yang namanya sihir. Seperti anak kecil pada umumnya, dia enggak suka sayur. Oh, iya. Saya enggak pernah lihat Chinatsu main dengan teman sebayanya, paling di episode satu doang, itu pun sebatas jalan bareng. Mungkin anime ini memang enggak terlalu fokus ke sana.

Ada juga Akane Kowata, kakaknya Makoto. Dia juga penyihir, Akane ini suka mengembara ke belahan dunia mana pun. Enggak tahu, dah, apa tujuannya. Oh, tadi saya bilang karakternya muncul secara bertahap, nah karakter itu antara lain Kurir Musim Semi (Hakobiya-san), Inukai, Anzu Shiina dan Ibunya, Hina. Dan beberapa lainnya yang enggak bisa saya sebutkan. Soalnya enggak semuanya manusia. Hantu (si Hina tadi) sama binatang pun ada. Tapi digambarkan dengan karakter yang lucu. Jadi betah nontonnya.

*tambahan, saya sampai lupa sama Mbak Nao. Dia teman satu sekolah Kei. Bingung juga bilangnya kalau disuruh mengatakan sifatnya. Dia jarang muncul, sih.

Musik
Lagu Pembuka: Sharanran feat. 96 Neko 「シャランラン feat. 96猫」 oleh miwa
Lagu Penutup: Nichijou no Mahou 「日常の魔法」 oleh Makoto Kowata (Minami Shinoda) & Chinatsu Kuramoto (Eri Suzuki)

Tunggu, kuroneko? Wah, saya tidak menyadarinya. Tapi lagu pembukanya memang bagus, saya bahkan menyukainya.

Oh, iya, efek suaranya enggak megah tapi klop sama ceritanya. Adegan mantra sihir seperti terbang dan menghilang pun begitu tenang, dengan suara angin yang sedikit berisik.

Kenikmatan Menonton
Saya enggak banyak bicara, tapi kalau kamu lagi penat dan pengin nonton cerita santai, saya sarankan nonton Flying Witch.


Penilaian
Cerita: 8
Grafis: 8
Karakter: 7
Musik: 8
Kenikmatan: 9
Keseluruhan: 8.0/10


2 gagasan untuk “[Ulasan] Flying Witch

  • 5 Juni 2016 pukul 05:22
    Permalink

    kaya nonton non non niyori cuma dengan tambahan sihir aja

    Balas
    • 5 Juni 2016 pukul 05:40
      Permalink

      Yap, bener banget. Kadang sudut gambarnya juga lebih fokus ke lingkungan sekitar daripada ke para tokohnya, macem non non biyori.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: