[Ulasan] Arslan Senki (TV)

Pangeran

Sudah lama sekali saya tidak mampir ke kunime. Memang, adalam beberapa hari ada saja yang berkomentar.
Meski hanya pada satu postingan, yang tidak lain tidak bukan pada pembahasan shigatsu, tapi terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkomentar.

Selain itu, saya ingin mencari sukarelawan bagi siapa saja yang ingin menjadi pengulas di sini, syarat hanya mengikuti metode ulasan.
Jika ingin, silakan berkomentar atau kirim surel melalui menu “kirim kutipan”. Maaf, tidak imbalan apa pun bila sudah menjadi pengulas.

Terlepas dari itu, mengingat akses kunime yang memberatkan bandwidth, mungkin kedepannya akan lebih sulit untuk diakses karena akan saya lakukan perbaikan secara berkala.


Dan, kali ini saya ingin mengulas Arslan Senki musim pertama, mungkin akan saya rangkum dengan sangat pendek, mengingat saya tamat hanya dalam dua hari, jadi biar enggak lupa ya saya tuangkan yang ada di kepala. Omong-omong, saya belum nonton musim keduanya sama sekali, mungkin tunggu sampai episode enam.
Oh, iya, rangkuman ini bakal ada spoilernya, kalau belum nonton mending enggak usah baca. Meski saya juga berusaha meminimalisi spoiler, tapi setidaknya ini peringatan dari saya.

Cerita
Jujur saja, saya sudah berapa kali membuka episode pertama, cuma selalu di close beberapa menit kemudian. Karena memang saya tidak begitu menyukai anime dengan gaya cerita zaman dahulu. Rasanya membosankan, dan isinya pasti hanya teriakan para prajurit yang hendak berperang. Tapi karena sampai ada musim keduanya, saya pikir bagus, jadi saya tonton tiga episode. Itu pun benar-benar mengulang dari episode satu, tidak melanjutkan saat saya close.
Tidak disangka ceritanya bagus, setiap akhir episode bikin saya penasaran. Padahal ceritanya sederhana, merebut kembali takhta kerajaan. Namun dalam proses merebutnya seru juga. Jadi tidak langsung direbut, melainkan melalui proses dari episode per episode. Dan itu membuat saya menyukainya, meski saya akui hal itu hanya akan membuat penonton bosan karena alurnya yang begitu lambat seperti naruto yang mau jadi Hokage sampai menghabiskan beberapa episode.
Oops, saya juga masih suka lihat naruto tiap minggunya, sih.

Grafis
Bagus. Yep, benar sekali, bagus. Gambar kelompok prajurit dan kuda dalam beberapa adegan dibuat 3D, dan itu dibuat dengan sangat baik.
Adegan pertempurannya pun keren, meski ada juga beberapa adegan di mana cuma tebasan pedang untuk mempercepat pertarungan atau mungkin staf yang malas membuatnya.
Tapi berkat cerita yang menarik, hal itu jadi bisa dimaklumi.

Saya masih takjub sama grafis 3D pas pasukan berkuda bergerak, apalagi diambil dari sudut pandang atas. Jadi kameranya itu dari atas, dan gerakannya benar-benar menyentuh. Kalau enggak salah di episode 14. Pas kameranya fokus ke elang.

Karakter
Untuk menambah bayangan mengenai cerita, mungkin akan sedikit saya beri tahu beberapa karakter di dalamnya. Mulai dari Pangeran Arslan, di sini dia diceritakan berusia 14 tahun. Namun dia dipercaya akan menjadi raja yang luar biasa. Daryun, sang prajurit handal pun membulatkan tekad juga perintah engkunya untuk melayani Pangeran Arslan bagaimana pun keadaannya.

Di episode keberapa, dalam mencari kawan untuk merebut kembali takhta kerajaan, Daryun memanggil temannya, yang seorang ahli strategi perang bernama Narsus dan anak buahnya yang setia bernama Elam. Tak disangka, seiring berjalannya waktu, bertambah lagi Farangis, seorang wanita yang diperintah untuk mengabdikan diri pada Pangeran Arslan. Juga seorang pengamen jalanan bernama Gieve.

Setidaknya itulah beberapa karakter yang setia pada Pangeran Arslan dalam membantu mengembalikan kerajaan. Masing-masing dari mereka memiliki sifat yang unik.
Saya enggak akan membahasnya.

Musik
Lagu Pembuka:
* Boku no Kotoba de wa Nai, Kore wa Bokutachi no Kotoba 7「僕の言葉ではない これは僕達の言葉」 oleh UVERworld (eps 1-13)
* Uzu to Uzu 「渦と渦」 oleh NICO Touches the Walls (eps 14-24)

Lagu Penutup:
* Lapis Lazuli 「ラピスラズリ」 oleh Eir Aoi (eps 1-13)
* One Light oleh Kalafina (eps 14-24)
* Uzu to Uzu 「渦と渦」 oleh NICO Touches the Walls (ep 25)

Saya suka lagu pembuka bagian pertama (episode 1 – 13). Sampai sekarang masih belum bosan saya mendengar versi full-nya. Efek suara sempat saya singgung,
yaitu tentang para prajurit yang pasti berteriak disetiap hendak perang. Tapi, yah … mau bagaimana lagi, memang seperti inilah cerita dan gaya animenya.

Kenikmatan Menonton
Anime ini memang memperlihatkan karakter wanita dengan pakaian minim, tapi sekali enggak ada unsur ecchi-nya. Saya sarankan kamu-kamu-pada yang suka cerita macam ini mending nonton, deh. Enggak usah lihat grafis dulu, yang penting ceritanya saja dulu. Nonton dua episode saja juga tidak apa, saya yakin pasti malah ketagihan.


Penilaian
Cerita: 9
Grafis: 8
Karakter: 8
Musik: 7
Kenikmatan: 9
Keseluruhan: 8.2/10


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: